Tugas Blog Etika Bisnis Ke-2
Nama Angggota Kelompok:
1. Annisa Kurniasih
2. Dwi Rahayu
3. Lailul Wahidah Chasiniah
4. Mega Ayu Miaparamita
5. Tiara Khairunnisa
Teori Etika Lingkungan – Biosentrisme
Manusia merupakan mahluk paling istimewa di dunia yang
memiliki peran paling utama terhadap lingkungan. Manusia terus mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk memudahkan manusia, namun
dalam penggunaan teknologi seperti sekarang ini, malah sebaliknya dimana
manusia yang dikendalikan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. penyebab ini
adalah nilai etika yg telah di abaikan. Terjadinya degradasi lingkungan sangat
berhubungan dengan kurangnya pemahaman manusia akan etika lingkungan. Etika lingkungan merupakan sebagai sebuah kritik
terhadap etika yang selama ini dianut oleh manusia dan menjadi petunjuk bagi
manusia di dunia dalam terwujudnya moral lingkungan. Adanya etika lingkungan
bertujuan agar mengubah pemahaman manusia terhadap lingkungan. Etika
lingkungan yang lebih menekankan kehidupan sebagai standar moral. Salah satu
tokoh penganutnya adalah Kenneth Goodpaster. Menurut Kenneth kepentingan untuk
hidup yang harus dijadikan standar moral. Rasa senang atau menderita bukanlah
tujuan melainkan kemampuan untuk hidup atau kepentingan untuk hidup. Sehingga
bukan hanya manusia dan binatang saja yang harus dihargai secara moral tetapi
juga tumbuhan. Seluruh kehidupan di alam semesta sesungguhnya membentuk sebuah
komunitas moral. Oleh karena itu, kehidupan makhluk apapun pantas dipertimbangkan
secara serius dalam setiap keputusan dan tindakan moral.
Biosentrisme jika di artikan secara kata
perkata berasal dari gabungan kata Yunani “bio” yang berarti hidup dan kata
latin “centrum” yang berarti pusat. tetapi jika di artikan secara harfiah biosentrisme adalah suatu
keyakinan bahwa kehidupan manusia memiliki hubungan yang sangat erat dengan
kehidupan seluruh kosmos. Dalam Biosentrisme manusia dianggap sebagai salah
satu makhluk hidup dari alam semesta yang mempunyai rasa saling ketergantungan
dengan makhluk hidup lainnya di alam semesta. Biosentrisme merupakan teori yang
memiliki suatu pandangan yang menempatkan alam sebagai yang memiliki nilai
tertinggi yang lepas dari kepentingan manusia. Jadi biosentrisme bertolak
belakang dengan teori antroposentrisme yang menyatakan bahwa hanya manusia dan
kepentingannya lah yang mempunyai nilai tertinggi. Teori biosentrisme juga
dapat di katakan teori yang memiliki pandangan bahwa makhluk hidup bukan hanya
manusia saja. Biosentrisme mengagungkan nilai kehidupan yang ada pada
ciptaan, sehingga komunitas moral tidak lagi dapat dibatasi hanya pada ruang
lingkup manusia. Mencakup alam sebagai ciptaan sebagai satu kesatuan komunitas
hidup (biotic community). Inti
pemikiran biosentrisme adalah bahwa setiap ciptaan
mempunyai nilai intrinsik dan keberadaannya memiliki relevansi moral.
Setiap makhluk hidup pantas mendapatkan keprihatinan dan tanggung jawab moral
karena kehidupan merupakan inti pokok dari konsern moral.
Albert Schweitzer (1964) menyatakan inti teori etika
lingkungan biosentrisme adalah hormat sedalam-dalamnya terhadap kehidupan (reverence
for life). Etika ini bersumber dari kesadaran bahwa kehidupan adalah hal
yang sakral, dan bahwa “saya menjalani kehidupan dan menginginkan tetap hidup,
di tengah kehidupan yang menginginkan untuk tetap hidup”. Orang yang
benar-benar bermoral adalah orang yang tunduk pada dorongan untuk membantu
semua kehidupan, ketika ia sendiri mampu membantu, dan menghindari apapun yang
membahayakan kehidupan.
Biosentrisme
memiliki tiga varian sebagai berikut:
a. The Life
Centered Theory à Teori lingkungan yang berpusat pada
lingkungan. Teori yang dikemukakan oleh Albert Schweizer, mengajukan empat
prinsip etis pokok, yaitu : manusia adalah anggota dari komunitas hidup yang
ada di bumi ini, bumi adalah suatu sistem organik dimana manusia dan ciptaan
lain saling berkaitan dan bergantung, setiap ciptaan dipersatukan oleh tujuan
bersama demi kebaikan dan keutuhan keseluruhan, dan menolak superioritas
manusia dihadapan makhluk ciptaan lain (Paul, dalam Light – Holmes Rolston III,
2003: 74-84, BASIS: 12-14).
b. The Land
Ethic (etika bumi) Ã Dikemukakan oleh Aldo Leopold menjadi teori
etika lingkungan klasik pada abad ini. Etika bumi menekankan pentingnya
keutuhan ciptaan dan bahwa setiap ciptaan merupakan bagian integral dari
komunitas kehidupan (Light-Holmes III, 2003:39/BASIS:2007:edisi 05-06:12-13).
Bumi dan segala isinya adalah subjek moral yang harus dihargai, tidak hanya
alat dan objek yang bisa dimanfaatkan manusia sesuka hati karena bumi bernilai
pada dirinya sendiri.
c. Teori
etika bumi à bahwa keutuhan seluruh makhluk ciptaan tidak
bertentangan dengan kepentingan masing-masing ciptaan. Aldo Leopold
mengatakakan bahwa tugas manusia untuk menata dan memelihara sehingga
kepentingan manusia sebagai bagian dari komunitas kehidupan bisa sejalan dan
tidak bertentangan dengan kebaikan seluruh kebaikan komunitas kehidupan.
Prinsip moral menurut Leopold adalah bahwa setiap tindakan akan banar secara
moral jika melindungi dan mengupayakan keutuhan, keindahan, dan stabilitas
seluruh komunitas kehidupan (Palmer dalam Light, 2003:24, BASIS : 12-14).
d. Equal
Treatment (perlakuan yang setara) Ã Dikenal sebagai anti
spesiesisme yang dikemukakan oleh Peter Singer dan James Rachel. Anti spesiesme
adalah sikap membela kepentingan dan kelangsungan hidup semua spesies di bumi
karena didasarkan pada mempunyai hak hidup yang sama dan pantas mendapatkan
perlindungan dan perhatian yang sama. Peter Singer mendasarkan teorinya kepada
prinsip moral perlakuan yang sama dalam kepentingan. Perlakuan yang sama dalam
relasi anta manusia didasarkan pada pertimbangan bahwa manusia mempunyai
kepentingan yang sama. Kesadaran dan tanggung jawab moral sangat penting
terhadap makhluk ciptaan bukan manusia. Tanggung jawab dan pertimbangan moral
berlaku bagi seluruh komunitas kehidupan. Prinsip moral harus konsisten
diterapkan dalam seluruh komunitas kehidupan demi kebaikan keseluruhan
komunitas kehidupan.
Menurut Taylor untuk memahami teori biosentrisme, kita
perlu membuat perbedaan antara pelaku moral (moral agent) dan
subyek (moral subjects). Pelaku moral adalah makhluk yang
memiliki kemampuan yang dapat digunakan untuk bertindak secara moral, sehingga
memiliki tanggung jawab dan bisa dituntut untuk bertanggung jawab terhadap
tindakannya (accountable beings). Berbeda dengan pelaku moral,
subyek moral adalah makhluk yang bisa dieprlakukan secara baik atau buruk. Bagi
Taylor, kewajiban utama manusia sebagai pelaku moral terhadap alam sebagai
subyek moral adalah menghargai dan menghormati alam (respect
for nature). Sikap hormat terhadap alam ini ditunjukkan dalam empat
kewajiban:
a. Kewajiban
untuk tidak melakukan suatu tindakan yang merugikan alam dan segala isinya (nonmaleficience atau no harm), kewajiban ini berbentuk negatif, dalam
artian manusia secara moral dituntut untuk dapat menagan diri untuk tidak
melakukan sesuatu yang negatif dan dekstruktif merugikan dan merusak alam
semesta.
b. Kewajiban
untuk tidak mencampuri (non-interference), ada
dua kewajiban yang terkait. Pertama, kewajiban untuk membatasi dan menghambat
kebebasan organisme untuk berkembang dan hidup secara leluasa dialam sesuai
dengan hakikatnya. Kedua, kewajiban untuk membiarkan organisme berkembang
sesuai dengan hakikatnya.
c. Kesetiaan,
kesetian disini yang dimaksud oleh Taylor adalah janji untuk menjaga dan
menghargai alam.
d. Kewajiban
restitutif atau keadilan retributif. Kewajiban ini menuntut agar manusia
memulihkan kembali kesalahan yang pernah diperbuatnya dalam bentuk kerusakan
ataupun pencemaran lingkungan. Manusia diwajibkan untuk mengembalikan alam yang
telah dirusaknya ke kondisi semula.
Ada
empat keyakinan yang mendasari pandangan biosentrisme menurut Paul Taylor
(1986), yakni :
a. Keyakinan
bahwa manusia adalah anggota dari komunitas kehidupan di bumi dalam arti yang
sama dan dalam kerangka yang sama dengan makhluk hidup lain dan merupakan
anggota dari komunitas yang sama.
b. Keyakinan
bahwa spesies manusia, bersama spesies lain adalah bagian dari sistem yang
saling tergantung sedemikian rupa sehingga kelangsungan hidup dari makhluk
manapun, serta peluangnya untuk berkembang biak atau sebaliknya tidak
ditentukan oleh kondisi fisik lingkungan, melainkan oleh relasinya satu sama
lain.
c. Keyakinan
bahwa semua organisme adalah pusat kehidupan yang mempunyai tujuan sendiri.
Artinya setiap organisme adalah unik dalam mengejar kepentingan sendiri sesuai
caranya sendiri.
d. Keyakinan
bahwa manusia pada dirinya sendir tidak lebih unggul dari makhluk hidup lain.
Keyakinan yang ada pada pendekatan biosentris melahirkan
pemahaman baru bahwa manusia hanya makhluk biologis yang sama dengan makhluk
biologis lain,. Manusia mendiami bumi yang sama dengan makhluk hidup lain. Manusia
merupakan bagian dari suatu keseluruhan dan bukan merupakan keseluruhan atau
pusat alam semesta. Dengan keyakinan ini, manusia akan lebih terbuka untuk
mempertimbangkan dan memperhatikan kepentingan makhluk hidup lainnya secara
serius, khususnya ketika ada benturan kepentingan antara manusia dengan makhluk
hidup lain (Keraf, 2002).
Contoh Etika Biosentrisme:
1. Menghargai hajat hidup orang banyak tak terkecuali hewan dan tumbuhan.
1. Menghargai hajat hidup orang banyak tak terkecuali hewan dan tumbuhan.
2. Kebutuhan manusia akan sumber terus bertambah seiring
dengan bertambahnya populasi manusia di bumi ini. Pembangunan juga terus dilakukan
untuk menuhi kebutuhan manusia akan sumber daya, namun sayangnya masih banyak
pembangunan yang dilakukan tidak berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan.
Pada pembangunan yang masih mengabaikan prinsip pembangunan berkelanjutan
berupa harmonisasi antara aspek ekonomi, ekologi, dan sosial ini merupakan
sumber terjadinya degradasi lingkungan. Degradasi lingkungan justru membuat
pembangunan kehilangan tujuannya untuk mensejahterakan kehidupan manusia.
Kelangkaan air bersih karena penurunan muka air tanah dan pencemaran sungai
oleh limbah industri dan rumah tangga, banjir dan longsor karena deforestasi
hutan, dan pemanasan global karena peningkatan efek gas rumah kaca merupakan
beberapa contoh dari degradasi lingkungan yang kini sangat erat dengan kehidupan
sehari-hari manusia di bumi. Degradasi lingkungan ini tidak hanya merugikan
manusia tetapi juga mahluk hidup lainnya di bumi. Adanya degradasi lingkungan mengambarkan kegagalan
manusia dalam mengelola lingkungan. Di lain pihak manusia merupakan mahluk
hidup yang istimewa karena dianugerahi akal dan pikiran oleh Tuhan. Manusia
sebagai mahluk paling istimewa di bumi memiliki peran yang paling utama
terhadap terjadinya degradasi lingkungan. Manusia terus mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi sebagai sarana untuk mencapai pembangunan namun dalam
penggunaannya manusia bukan lagi yang megendalikan oleh ilmu pengetahuan dan
teknologi tetapi manusia yang dikendalikan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.
Salah satu penyebabnya adalah diabaikannya nilai etika oleh manusia. Etika diperlukan untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang
telah ada di masyarakat terkait dengan benar atau salah. Terjadinya degradasi
lingkungan erat kaitannya dengan kurangnya pemahaman manusia akan etika
lingkungan.
SUMBER:
Hanya dengan modal 10rb bisa main Game kesukaan anda
BalasHapusKlik ====>winning303.fun
Ayo Segera Daftar Akun Bermain Anda..Gratiss..
Klik >>>>>>> Daftar winning303
Hubungi Segera:
WA: 087785425244
Cs 24 Jam Online